Atasi Kerusakan Tanah dan Tingginya Biaya, Petani 6 Desa di Tuban Beralih ke Pertanian Semi Organik

Ringkasan Berita
  • Petani di enam desa Tuban beralih ke pertanian semi organik akibat kerusakan tanah, serangan jamur, dan biaya pupuk kimia yang tinggi. Pola tanam berlebihan dengan bahan kimia terbukti menurunkan kualitas lahan dan membebani keuangan petani.
  • Inisiatif ini dipelajari melalui program 'Ngudar Tani' di Desa Sumurjalak yang mengajarkan teknik hemat biaya dan ramah lingkungan. Petani diajarkan meracik fungisida dan zat pengatur tumbuh alami dari bahan lokal seperti belerang, KOH, jagung manis, dan obat gendar.
  • Program pertanian berkelanjutan ini merupakan kolaborasi ExxonMobil Cepu Limited, SKK Migas, dan Yayasan eL-SAL Indonesia dengan pendekatan problem-solving. Tujuannya agar inovasi sukses di satu wilayah dapat direplikasi di daerah operasional lainnya untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.
  • Perubahan pola tanam ini menjadi jawaban konkret terhadap ancaman gagal panen akibat nematoda dan keasaman tanah tinggi. Praktik semi organik terbukti memperkuat imun tanaman jangka panjang sekaligus memangkas ketergantungan pada produk pabrikan mahal.
  • Kolaborasi dengan petani penggarap lahan di sepanjang jalur pipa minyak Blok Cepu menekankan sinergi menjaga keamanan infrastruktur. Keberhasilan program ini bergantung pada dukungan masyarakat sekitar dalam menjaga keselamatan operasional.

TUBAN, BANGSAONLINE.com - Gelombang perubahan pola tanam mulai bergerak di Kabupaten Tuban. Puluhan petani dari enam desa di Kecamatan Palang kini memilih mengadopsi metode pertanian semi organik sebagai langkah penyelamatan atas penurunan kesuburan tanah, maraknya serangan jamur, serta tingginya harga pupuk dan obat-obatan kimia buatan pabrik.

Langkah ini diambil setelah pemakaian bahan kimia berlebihan secara terus-menerus terbukti merusak kualitas lahan.

"Untuk mengubah pola itu, kami juga sudah mengadopsi metode pertanian semi organik yang terbukti berhasil di lahan percontohan (demplot) Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang," tutur Jasmat, salah seorang petani asal Desa Glodog, Kecamatan Palang, saat ditemui pada Senin (10/8/2026).

Jasmat mengungkapkan bahwa kebiasaan memupuk dan menyemprot racun kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun berimbas pada kondisi tanah yang kian mengeras. Di sisi lain, pembengkakan pengeluaran untuk membeli obat-obatan pertanian tidak sebanding dengan pendapatan hasil panen.

"Kami butuh cara baru yang lebih efisien agar biaya tanam tidak terus membengkak," lanjutnya.

Guna melepaskan diri dari tekanan modal produksi, Jasmat bersama puluhan petani yang berasal dari Desa Leran Kulon, Glodog, Pucangan, Cendoro, Ngimbang, dan Gesing mendatangi Balai Dusun Jalak, Desa Sumurjalak. Melalui wadah diskusi "Ngudar Tani", mereka berguru secara langsung mengenai teknik budidaya hemat biaya dan ramah lingkungan yang telah sukses diterapkan oleh kelompok tani setempat.

"Bagi para petani, perbaikan pola tanam ini menjadi jawaban konkret atas kekhawatiran gagal panen akibat serangan nematoda dan keasaman tanah yang tinggi," jelas Jasmat.

Praktik di lapangan membuktikan bahwa ketergantungan pada pestisida kimia berharga mahal justru melemahkan imun tanaman dalam jangka panjang. Sebagai solusinya, para petani diajarkan meracik fungisida mandiri memanfaatkan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat, seperti perpaduan belerang, KOH, serta garam.

Tak hanya itu, mereka juga dibekali keahlian meracik zat pengatur tumbuh (ZPT) pemungkas bulir padi berbasis bahan alami seperti jagung manis dan obat gendar. Racikan ini terbukti efektif memaksimalkan pengisian malai padi tanpa perlu bergantung pada produk pabrikan.

“Cara-cara seperti ini yang kami butuhkan sekarang," tegas Jasmat.

Inisiatif edukatif ini merupakan bagian dari program pertanian berkelanjutan dan aman yang digagas oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, dengan menggandeng Yayasan eL-SAL Indonesia sebagai mitra pelaksana.

Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono, menyampaikan bahwa konsep pelatihan berbasis pemecahan masalah (problem-solving) ini dirancang agar inovasi yang terbukti sukses di satu kawasan dapat segera direplikasi oleh masyarakat di wilayah operasional lainnya. Dengan kemampuan meracik formula pembenah tanah dan nutrisi secara mandiri, petani dapat memangkas modal dan meningkatkan efisiensi usaha tani.

"Karena para petani ini merupakan penggarap lahan sepanjang jalur pipa minyak Blok Cepu, sehingga kami menekankan kolaborasi dan sinergi dalam menjaga keamanan dan keselamatan. Terutama, jalur pipa minyak ini aman berkat dukungan dari masyarakat sekitar, khususnya petani," pungkas Joni.