Ringkasan Berita
- Tafsir Al-Hajj 46 menegaskan bahwa kebutaan hakiki bukan pada mata fisik, tetapi pada hati yang tidak mampu membedakan kebenaran, seperti pada koruptor yang tidak bisa membedakan uang halal dan haram.
- Ayat ini merespons pertanyaan sahabat Abdullah ibn Umm Maktum yang buta, menjelaskan bahwa kebutaan di akhirat ditentukan oleh kebuta-hatian, bukan kondisi mata jasmani.
- Manusia memiliki empat mata: dua mata di kepala untuk melihat dunia dan dua 'mata' di hati (qalbu) untuk melihat akhirat; kebuta-hatian jauh lebih berbahaya daripada kebutaan fisik.
- Perbedaan adzan Subuh Bilal dan Ibn Umm Maktum: Bilal menambahkan "ash-shalatu khairun min an-naum" untuk membangunkan orang, sedangkan Ibn Umm Maktum, yang membaca fajar dengan 'mata hati', tidak membutuhkan tambahan itu karena jamaah sudah siap.
- Artikel mengajak refleksi: meski memiliki teknologi seperti jam dan alarm, rendahnya partisipasi shalat Subuh berjamaah mengindikasikan kemungkinan adanya 'kebutaan' pada komitmen keagamaan dan qalbu umat Islam saat ini.
Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 46. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
46. A fa lam yasîrû fil-ardli fa takûna lahum qulûbuy ya‘qilûna bihâ au âdzânuy yasma‘ûna bihâ, fa innahâ lâ ta‘mal-abshâru wa lâkin ta‘mal-qulûbullatî fish-shudûr
Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.
TAFSIR
Di atas telah diutarakan pesan global ayat kaji ini, yakni menjelaskan sesungguhnya siapa yang buta dan siapa sesungguhnya yang melek. Siapa yang sesungguhnya budeg dan siapa yang bisa mendengar. Ternyata pedomannya adalah teologis dan bukan fisis.
Mesti matanya sehat dan bisa melihat benda serumit apa, tapi bila tidak bisa melihat kebenaran, mana yang benar, dan mana yang salah, maka mata tersebut dianggap buta oleh ayat kaji ini. Seperti para koruptor di negeri ini, mata mereka sehat, tetapi hati mereka tidak bisa melihat mana uang yang halal dan mana yang haram. Gelap dan main sikat saja.
Al-imam Mujahid berkomentar: “... sesungguhnya setiap manusia itu punya empat mata”. Tentu saja membuat janggal bagi siapa saja yang mendengar.
Lalu dijelaskan: “bahwa dua mata terletak di wajah dan itu yang nampak dan dua “mata” terletak di qalbu, (hati) dan itu yang tak nampak. Dua mata di kepala itu untuk melihat kehidupan dunia dan dua mata di hati itu untuk melihat kehidupan di akhirat”.
Jika dua mata di kepala itu buta, sementara dua mata hatinya sehat, maka kebutaan di mata kepala itu tidak membahayakan apa-apa. Sebaliknya, jika dua mata hatinya yang buta, meski mata kepalanya sehat, justru itu yang berbahaya.
Saat Rasulullah SAW memberi nasihat soal buta-butaan ini, sorang sahabat buta bernama Abdullah ibn Umm Maktum nampak bersedih dan memberanikan diri bertanya: “Ya Rasulallah.. seperti yang engkau ketahui, bahwa dua mata saya adalah buta, apakah nanti di akhirat juga tetap buta?”
Lalu ayat ini turun sebagai jawaban, bahwa kebutaan bukan pada mata kepala, tapi pada qalbu.
Siapa Abdullah ibn Umm Maktum? Dialah seorang sahabat buta, aktif di Masjid Nabawi yang ditugasi Rasulallah SAW mengumandangkan adzan Shubuh. Sedangkan yang bertugas adzan menjelang shubuh, kira-kira satu jam sebelum waktu shubuh tiba adalah Bilal bin Rabah, mantan budak berkulit hitam yang dimerdekakan. Suaranya melengking tajam dan khas.
Adzan Bilal ini menggugah dan membangunkan umat islam yang belum shalat tahajjud. Makanya, ada tambahan kalimat “al-shalah khair min al-naum”. Shalat (tahajjud) itu lebih bagus ketimbang tidur, setelah seru “hayya ‘ala al-falah”. Bisa juga sebagai pengingat mereka yang belum shalat isya’ atau untuk persiapan shalat fajar.
Ibn Umm Maktum selalu memantau fajar dengan saksama. Dia tahu persis saat fajar itu datang dan tak pernah meleset. Dia membaca fajar buka dengan mata kepalanya, tetapi dengan mata hatinya, sehingga tingkat akurasinya sangat tinggi. Tidak ada masalah dengan kondisi cuaca, mau cerah atau gelap, terang atau hujan, sama saja.
Dan pada adzan Ibn Umm Maktum ini tidak ada tambahan seruan “Al-shalah khair min al-naum”, karena para sahabat umumnya sudah pada bangun dan siap shalat shubuh berjamaah semua.
Kita? Ada jam melekat di tangan, ada alarm di ponsel, tapi berapa persen umat islam negeri ini yang aktif shalat shubuh berjamaah. Apa yang salah pada diri kita: komitmen keagamaan kita atau memang ada titik-titik kebutaan di qalbu kita? Astaghfirullah al-adhim.










