Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*
63. Qaaluu in haadzaani lasaahiraani yuriidaani an yukhrijaakum min ardhikum bisihrihimaa wayadzhabaa bithariiqatikumu almutslaa
Mereka (para penyihir) berkata, âSesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar penyihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihir mereka berdua dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.
64. Fa-ajmiâuu kaydakum tsumma i'tuu shaffan waqad aflaha alyawma mani istaâlaa
Kumpulkanlah segala tipu daya (sihir)-mu, kemudian datanglah dalam satu barisan! Sungguh, beruntung orang yang menang pada hari ini.â
Pengantar Filologis
Pada ayat 63 ini terdapat kalimat yang susunan katanya menyebabkan mufassirin berpolemik dari sisi iârabnya. Yakni: âIN hadzani lasahiranâ. Mereka membaca âINâ mukhaffafah, tanpa tasydid yang berarti Nafiyah bermakna âtidakâ. Tetapi banyak juga yang membaca model tsaqilah, bertsydid, âINNâ, artinya sungguh.
Urwah R.A., seorang keponakan bunda Aâisyah meriwayatkan, bahwa ada tiga bacaan di dalam al-qurâan yang berpolemik sisi iârabnya, yakni: pertama, pada ayat kaji ini, antara IN dan INN sementara kata âHadzaniâ tetap marfuâ. Kedua, âwa al-muqiminâ (manshub) setelah kalimat âlakin al-rasyikhun fi al-ilmâ dan seterusnya yang marfuâ (al-nisaâ: 62) dan ketiga, kata âwa al-Shabiâunâ yang marfuâ di tengah-tengah isim âinnâ yang manshub.
Penyelesaian qiraâah nomor dua, âwa al-muqiminâ menggunakan âamil berupa Fiâil yang dibuang sehingga arah kalam menjadi ikhtishah dan kata itu berpisisi sebagai âal-mafâul bihâ. Jadinya, wa akhussu âal-muqimin al-shalahâ. Tafsirnya, pelaksana shalat menjadi lebih diperhatikan dalam konteks ini ketimbang yang lain.
Penyelesaian polemik nomor tiga, âwa al-shabiâunâ cukup bervarian. Mudahnya, kata tersebut didekati dengan tehnik âfashlâ, terpisah dari deretan isim INN yang manshub, lalu dijadikan al-mubtadaâ (marfuâ) yang khabarnya makhdzuf atau diambil lebih dini dari kalimat âfa La Khauf âalihim..â. Lengkapnya âwa al-shabiâun La khauf âalihimâ.
Sedangkan problem pertama sebagai mana tertera pada ayat kaji ini adalah, bahwa, qiraâah masyhurah riwayat Hafsh adalah âINâ (mukhaffafah), maka kata Hadzani tetap marfuâ dan itu wajar-wajar saja. Artinya, âtidaklah Musa dan Harun melainkan dua tukang sihirâ, begitu tuduhan mereka.
Ada berperbedaan antara taâbir pakai âinâ nafiyah yang khabarnya pakai Lam âtaukid, ibtidaââ dan yang tidak. Jika disebutkan âin anta LAshadiqâ, maka maknanya, anda orang jujur beneran. Jika dikata: âin anta shadiqâ (tanpa LA..), maka anda bukan orang jujur. âin hadzani lasahiranâ, berarti keduanya adalah tukang sihir. Itu tuduhan Firâaun and kroni terhadap nabi Musa A.S. dan nabi Harun A.S.
Soal bacaan âinnâ (musyaddadah, tsaqilah) sementara kata âhadzaniâ tetap marfuâ (inn Hadzani lasahirani), hal itu karena kata :âINNâ bermakna ânaâamâ, artinya âYa, benar demikianâsebagai tesis pembenaran. Lughah demikian sering dipakai dalam tradisi bahasa arab kuno, meski jarang.
Sayyiduna Alie ibn Abi Thalib K.Wjh. meriwayatkan: âSaking seringnya, saya tidak bisa menghitung berapa kali saya mendengar Rasulullah SAW berpidato di atas minbar dengan mengatakan: âINN al-HamDU Lillah, nahmaduh wa nastaâinuhâŠâ. Kata al-Hamd dibaca dlammah, marfuâ.
Hal itu karena beliau masih berpegang pada tradisi bahasa arab lama yang masih eksis meski kurang populer, bahwa : INN bermakna âNAâAMâ (âYAâ, mengiYAkan tesis sebelumnya, baik tersurat maupun yang tersirat, bukan sebagai âamil atau huruf taukid, tanshib al-ism wa tarfaâ al-khabar). Kemudian beliau menandaskan, :â .. ana afshah quraisy kulliha..â. Aku orang Quraisy yang paling fashih. (al-Jamiâ Li ahkam al-qurâan, Li al-imam al-Qurthubi :11/p.218).
*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengajar di Pondok Pesantren Madrasatul Qurâan (MQ), Tebuireng, Jombang.









