BANGSAONLINE.com - Doktor baru lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dewinda Julianensi Rumala, mengembangkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit otak agar lebih akurat.
Dewinda menjelaskan, meskipun Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah menjadi alat utama dalam diagnosis penyakit otak. Namun, kelemahannya adalah interpretasi citra MRI masih bergantung pada analisis manual oleh dokter.
“Untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi, AI dapat berperan dalam mendeteksi pola penyakit yang mungkin tidak terlihat oleh mata manusia,” jelasnya, Selasa (15/4/2025).
Dalam risetnya, Dewinda mengembangkan model deep learning dengan pendekatan deep-stacked ensemble learning. Pendekatan ini mengombinasikan beberapa jaringan saraf tiruan agar dapat menghasilkan prediksi yang lebih stabil dan akurat.









