SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE tiba-tiba ramai dipenuhi para santri. Mereka duduk lesehan memenuhi ruang redaksi. Mereka adalah para santri aktivis pers Madrasah Bertaraf Internasional (MB) Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Tapi benarkah mereka punya bakat sebagai jurnalis dan novelis?
Untuk ke sekian kalinya kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE mendapat kunjungan para tamu. Kali ini para aktivis pers MBI Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur. Mereka berkunjung ke kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE di Jalan Cipta Menanggal I nomor 35 Surbaya, Selasa (9/6/2026).
Mereka adalah pengelola Majalah Havara, yaitu media MBI yang terbit dua versi yaitu untuk santri putra dan putri. Havara singkatan Hadza Min Vadli Rabby.
“Ini lengkap, mulai dari pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, lay out hingga reporternya,” ujar Ustadz M. Ali Sofyan, S.Sos, guru yang mendampingi mereka begitu tiba di kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE sekitar pukul 10.00 pagi. Selain Ustadz Ali Sofyan juga tampak Ustadzah Anisa Putri, LC dan Saroh Syariah.
“Kami ingin belajar kepada pers yang sudah profesional,” tambah Ustadz Ali Sofyan.
Para santri aktivis pers itu disambut M. Mas’ud Adnan, founder atau pendiri HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.COM yang juga menjabat CEO atau Chief Executive Officer. Mas’ud Adnan didampingi Nur Syaifudin (Pemimpin Redaksi), Maulana (Redaktur Pelaksana), Aulia Rachman (Kepala Pracetak), dan Devi Fitri Afrianti (wartawan HARIAN BANGSA).
Sementara dari BANGSAONLINE.com diwakili M. Aulia Rahman (Redaktur Pelaksana) dan Emwin Rahman (Editor Video dan Medsos).
Selain jajaran redaksi juga ikut menyambut mereka jajaran iklan dan pemasaran. Yaitu Yuni (manajer iklan), Umi Tutut (pemasaran), Novianti (keuangan), Fenti (iklan) dan Fadil (desain iklan).

Para santri aktivis pers MBI PP Amanatul Ummah antusias menyimak pemaparan M. Mas'ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE, Selasa (9/6/2026). Foto: BANGSAONLINE
Banyak pertanyaan muncul dari santri putra dan putri itu. Antara lain bagaimana cara membuat tulisan yang berbobot dan wawancara yang bagus.
“Jawabannya harus banyak membaca,” tegas Mas’ud Adnan.
Menurut Mas’ud, orang yang gemar baca pasti wawasannya luas, berkualitas dan kritis. Sehingga bisa membuat pertanyaan yang kritis pula. “Bahkan dalam menulis status atau story di medsos pun akan kelihatan, apakah dia banyak baca atau tidak. Statusnya pasti mengandung filosofi dan intelektual,” ujar alumnus Pesantren Tebuireng dan Pascasarjana Unair itu.
Ia mengaku senang para santri MBI aktif di media karena akan ada regenerasi untuk jurnalis santri. Menurut Mas’ud, dari dialog yang berlangsung ia menilai banyak sekali santri MBI yang bakat jadi jurnalis dan novelis.
“Bahkan ada yang sudah aktif menulis dan akan menerbitkan novel,” ujarnya.
Nur Syaifuddin menekankan pentingnya rubrikasi yang khas buat Havara. Pak NS – panggilan Nur Syaifudin – mencontohkan rubrik HARIAN BANGSA yang menyediakan Religia dan Tafsir Al-Quran. Sehingga koran yang terbit pada 1 Maret 2000 itu tetap dicintai pembaca.
“Kalau berita-berita umum orang bisa membaca di media lain, tapi berita agama hanya di HARIAN BANGSA,” ujarnya.
Maulana juga menjawab soal rubrik yang menarik. Menurut dia, perlu rubrik khas untuk Havara. “Misalnya liputan soal wali santri yang sambang,” sarannya. Sehingga tiap Majalah Havara terbit para wali santri itu mencari berita mereka sendiri.
Selain itu, menurut Maulana, wartawan dan redaktur Havara perlu terus melatih instingnya. “Misalnya kalau berita begini judulnya seperti apa. Makanya pada malam hari wartawan itu sudah harus berpikir besok akan menulis berita apa,” ujarnya.
Sedangkan Aulia Rachman menekankan pentingnya wajah media tampil menarik. “Pernah tahu psikologi lay out,” tanya lay outer halaman 1 HARIAN BANGSA itu.
Menurut dia, tata letak majalah lebih fleksibel ketimbang surat kabar. “Majalah itu bebas. Bersifat pop, bersifat dinamis,” ujar sarjana UIN Sunan Ampel itu sembari menyarankan pemilihan kombinasi warna mengacu pada iklan produk kosmetik.
Sementara Emwin menjawab pertanyaan santri putra bagaimana caranya memperbanyak viewer di media sosial, misalnya podcast. “Itu tergantung topik,” jawab Emwin.
Ia mencontohkan Podcast BANGSAONLINE. “Yang paling banyak ditonton topik agama,” ujarnya.
Usai diskusi mereka menyaksikan proses produksi, termasuk cara kerja lay out dan sebagian masuk ke ruang podcast BANGSAONLINE. Sebagian lain naik ke lantai satu ke ruang BANGSAONLINE untuk melihat proses editing video dan sebagainya. Acara itu diakhiri makan bersama dan foto bersama.










