KOTA KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Pengasuh Pondok Pesantren Putri Assalamah Lirboyo, H.M. Abdul Muid, menyayangkan terjadinya keributan dalam rapat pleno Munas dan Konbes NU di Ponpes Al-Falah Ploso, Jombang, yang sempat diwarnai aksi saling dorong saat membahas lokasi Muktamar NU.
Menurut dia, perbedaan pendapat dalam forum organisasi merupakan hal wajar, namun seharusnya tetap mengedepankan akhlak, adab, dan semangat musyawarah sebagaimana tradisi para ulama pendiri NU.
“Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang biasa dalam organisasi sebesar NU. Akan tetapi, semua harus disampaikan dengan cara yang santun dan bermartabat. Saya sangat menyayangkan apabila forum yang seharusnya menjadi ruang musyawarah justru diwarnai ketegangan yang tidak mencerminkan akhlak warga Nahdliyin,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Ditegaskan pula bahwa akhlak merupakan fondasi utama NU. Ia mengatakan, “NU adalah organisasi kebangkitan ulama. Karena itu, para pengurusnya harus menampilkan akhlak yang baik sebagaimana dicontohkan para masyayikh. Marwah NU tidak hanya dijaga dengan kekuatan organisasi, tetapi juga dengan keluhuran budi para penggeraknya.”
Abdul Muid mendorong agar peristiwa tersebut dijadikan evaluasi dalam proses kaderisasi dan rekrutmen kepengurusan. Ia menekankan integritas dan akhlak harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih figur pemimpin NU.
“Ke depan, kita harus lebih selektif dalam memilih pengurus. Jabatan di NU adalah amanah yang harus diemban oleh orang-orang yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keulamaan, mampu menjaga persatuan, dan mengedepankan musyawarah,” paparnya.
Ia mengingatkan NU tidak memberi ruang bagi pihak yang membawa budaya kekerasan.
“Jangan sampai ada kebobolan sehingga orang yang bermental preman justru masuk dan menjadi pengurus NU. Organisasi para ulama harus dipimpin oleh orang-orang yang mampu menjadi teladan dalam akhlak, bukan yang mengedepankan emosi dan kekerasan,” ucapnya.
Abdul Muid berharap seluruh elemen NU menjadikan kejadian tersebut sebagai pelajaran untuk memperkuat persaudaraan, menjaga marwah organisasi, dan mengembalikan dinamika internal kepada semangat musyawarah.
Rapat pleno terakhir untuk menentukan lokasi Muktamar NU Agustus mendatang sempat diwarnai interupsi dan protes terhadap penunjukan Ponpes Lirboyo Kediri sebagai tuan rumah. Penentuan lokasi akhirnya dipending dengan beberapa opsi lain seperti NTB, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat. (uji/mar)









