TUBAN, BANGSAONLINE.com - Sekitar 500 warga pesisir laut utara di Desa Karangagung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, mengikuti edukasi dan simulasi tanggap darurat bencana kegagalan teknologi industri pada Rabu (1/7/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) ini diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Tuban melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bekerja sama dengan PT Pertamina EP Sukowati Field. Simulasi ini juga melibatkan TNI, Polri, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa, serta unsur relawan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tuban, Sudarmadji, menjelaskan bahwa latihan ini dikemas dalam bentuk Wet Drill Command Post Exercise. Agenda ini menjadi sarana krusial untuk menguji sistem koordinasi dan kesiapan di lapangan.
"Kami hari ini menggelar Wet Drill Command Post Exercise sebagai simulasi penanganan keadaan darurat akibat bencana kegagalan teknologi industri," kata Sudarmadji kepada wartawan.
Mantan Camat Plumpang tersebut menambahkan bahwa simulasi tahun 2026 ini merupakan latihan berskala besar. Tujuannya adalah menguji kesiapsiagaan personel, peralatan, dan sistem komando lintas instansi dalam menghadapi potensi kebocoran pipa migas yang bisa mencemari perairan dan berdampak pada warga.
"Untuk latihan tahun 2026 ini merupakan simulasi berskala besar yang melibatkan seluruh unsur Satuan Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB), TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, masyarakat, serta pihak perusahaan," paparnya.

Skenario latihan difokuskan pada penanganan pencemaran laut akibat kebocoran pipa. Warga setempat dilatih secara langsung untuk melakukan proses evakuasi secara runut, mulai dari titik kumpul sementara hingga menuju lokasi pengungsian yang aman.
Desa Karangagung dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai memiliki risiko tinggi karena menjadi titik pelintasan dua jalur pipa migas vital menuju fasilitas lepas pantai (offshore). Dua jalur tersebut milik PT Pertamina EP Sukowati Field dan ExxonMobil.
"Tentu desa ini dinilai memiliki potensi risiko apabila terjadi kebocoran. Dan kami ingin memastikan seluruh pihak memahami peran masing-masing. Jika sewaktu-waktu terjadi insiden, baik personel, peralatan, maupun sistem komando sudah siap bekerja secara cepat, terkoordinasi, dan efektif," beber Sudarmadji.
Melalui simulasi ini, BPBD Tuban berharap sinergi antara pemerintah, perusahaan migas, aparat keamanan, dan masyarakat semakin solid demi meminimalkan risiko dampak buruk di masa depan.
"Kami berharap dengan adanya kegiatan ini pemerintah, perusahaan migas, aparat keamanan, dan masyarakat semakin kuat sehingga mampu meminimalkan risiko serta dampak apabila terjadi keadaan darurat di kawasan industri migas," pintanya.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Camat Palang, Kapitano Gunawan, turut menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, edukasi ini adalah bekal penting agar tidak terjadi kepanikan massal dan setiap unsur paham apa yang harus dilakukan saat kondisi kritis.
"Kegiatan ini menjadi bekal penting bagi seluruh pihak agar memahami peran masing-masing dalam kondisi darurat. Meski bencana diharapkan tidak terjadi, tapi jika sewaktu-waktu terjadi seluruh unsur sudah mengetahui tugas, posisi dan langkah. Termasuk yang harus dilakukan sehingga penanganan dapat berlangsung lebih cepat dan terkoordinasi," ujar Kapitano.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kolaborasi ini.
"Terima kasih kepada BPBD Tuban, Pertamina EP Sukowati Field, serta seluruh instansi yang telah berkolaborasi menyukseskan kegiatan tersebut. Tentu kegiatan ini sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana teknologi industri di Kabupaten Tuban," pungkas Kapitano. (wan/rev)










