Ringkasan Berita
- Penulis membedakan antara dekadensi moral elit struktural NU dan moral kultural NU, menekankan bahwa isu utama adalah krisis integritas pada level elit.
- NU digambarkan sebagai organisasi yang kekuatan utamanya bersifat kultural, bukan struktural, sehingga daya tahannya berasal dari nilai-nilai di tingkat akar rumput.
- Keberhasilan kelompok kultural NU dalam berbagai momen pemilu menunjukkan bahwa basis dukungan nyata organisasi berada di luar struktur formal.
- Penulis mengajak netizen untuk tidak menyamaratakan tindakan segelintir elit dengan seluruh organisasi NU, yang standar moral etik warganya dianggap masih terjaga.
- Artikel menyimpulkan bahwa NU merupakan 'raksasa kultural' yang integritasnya tetap hidup di kalangan warga NU biasa di tingkat kampung.
Oleh: Firman Syah Ali
Saya aktif membaca komentar netizen tentang perkembangan kontemporer NU di berbagai platform media sosial. Tidak sedikit netizen yang berkomentar sengak tentang NU, misalnya "parah NU sekarang", ada juga yang berkomentar "rusak rusak, bubarkan saja" dan beraneka ragam komentar pedas lainnya. Saya tidak tau yang menulis komentar itu orang NU apa bukan.
Menurut saya, netizen dimaksud sulit membedakan antara dekadensi moral NU dengan dekadensi moral elit NU. Mungkin yang mereka maksud adalah krisis integritas elit NU, tapi yang mereka ketik adalah NU secara keseluruhan.
Berbeda dengan ormas lainnya, kekuatan utama dan identitas NU bukan terletak di struktural namun di kultural. Selama moral NU kultural masih terjaga dengan baik, berarti tidak terjadi dekadensi moral di tubuh NU.
Makanya netizen tidak usah terkejut ketika muncul beberapa tokoh NU yang hebat, pemberani, jujur dan membanggakan, namun namanya tidak ada dalam struktur kepengurusan NU. Setelah diverifikasi dia memang warga NU 24 karat sejak berada di dalam kandungan ibunya.
Kekuatan Jama'ah (kultural) inilah yang selama ini membuat NU tetap bertahan dan berkembang di dalam situasi apapun, bahkan di dalam situasi strukturalnya terlibat skandal keuangan dan skandal moral lainnya yang sangat memalukan misalnya.
Kita lihat saja dalam berbagai momen pemilu pusat maupun daerah, seringkali kelompok kultural NU di bawah pimpinan Kyai tertentu punya dukungan yang berbeda dengan elit struktural NU, dan begitu perolehan suara dihitung, pihak kelompok kultural yang menang. Ini bukti nyata bahwa kekuatan NU bukan di struktural.
Maka kepada netizen, saya harap tidak menilai NU dari segelintir elit strukturalnya, NU ini raksasa kultural yang standar moral etiknya masih terpelihara dengan baik. Kalau tidak percaya, silahkan anda ngopi lebih jauh sedikit, yaitu ke pelosok kampung di mana orang-orang NU yang lugu, ikhlas dan polos akan membuat anda malu untuk ngetik komentar secara serampangan di media sosial.
*) Penulis adalah Pengurus Pusat Majelis Alumni IPNU/Ketua Umum KONU/Panglima Nahdliyin Bergerak (NABRAK)










