Ringkasan Berita
- NU didirikan sebagai wadah penyatuan pesantren untuk menghadapi persoalan keumatan dan kebangsaan, dengan struktur awal yang didominasi Syuriyah dan dipimpin ulama seperti KH Hasyim Asy'ari.
- Menjelang Muktamar ke-35, Kiai Asep mengkritik proses muktamar sebelumnya dan menuntut NU dikendalikan ulama, bukan segelintir kelompok tanpa legitimasi keulamaan.
- Transformasi NU di abad kedua harus berpijak pada akar sejarahnya, melanjutkan cita-cita awal melalui perjuangan mewujudkan kemerdekaan sejati dan pengembangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang inklusif.
- NU lahir dari proses kaderisasi Nahdlatul Wathan (1916) dan gagasan ulama pesantren, menempatkan pesantren sebagai rumah besar organisasi.
- Karakter Ahlussunnah wal Jamaah dalam NU dianggap inklusif, mengedepankan persatuan, dan mampu menjalin hubungan tanpa kehilangan jati diri.
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, akhir Agustus 2026, arah kepemimpinan NU memasuki abad kedua menjadi perhatian ulama dan tokoh pesantren di Jawa Timur (Jatim).
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Publik bertema “Transformasi–Orientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II” yang digelar Jurnalis Pokja Grahadi bersama Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Aula JKSN, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
Dialog tersebut menghadirkan Pengasuh Pesantren Bumi Sholawat KH Agoes Ali Masyhuri alias Gus Ali, Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Prof Usep Abdul Matin, Guru Besar Bidang Sejarah dan Pemikiran Islam Klasik UINSA Prof Dr KH Imam Ghozali Said, serta Ketua Umum JKSN sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Kiai Asep menegaskan transformasi NU pada abad kedua harus tetap berpijak pada akar sejarah kelahirannya sebagai organisasi yang dibangun dari pesantren dan ulama.










