Di Arena Muktamar NU, IKA PMII akan Kupas Ekonomi Regeneratif

Oleh: Firman Syah Ali*)
 
Kita sedang hidup di era di mana tantangan global, mulai dari perubahan iklim, kelangkaan energi fosil, hingga bayang-bayang krisis pangan sudah mengetuk pintu rumah kita masing-masing, itupun bagi yang punya rumah.
 
​Dunia internasional kini sibuk mencari solusi baru. Dulu kita mengenal Ekonomi Hijau dan Ekonomi Biru, hari ini bergeser ke level yang lebih radikal, yaitu Ekonomi Sirkuler dan Ekonomi Regeneratif
Inti ekonomi sirkuler dan ekonomi regeneratif sederhana, yaitu kita bukan hanya 'tidak merusak alam', tapi dituntut untuk aktif menyembuhkan dan memulihkan bumi.
 
Ekonomi sirkuler adalah ekonomi tanpa sampah. Sisa dari proses produksi dan konsumsi tidak dibuang ke TPA tapi diolah kembali menjadi bahan baku untuk produk atau energi baru. Contohnya adalah pengolahan limbah plastik menjadi paving blok atau kain, ampas kopi menjadi media tanam jamur, limbah tekstil menjadi produk fashion, dan limbah ternak sapi menjadi produk energi.
 
Ekonomi Regeneratif adalah model ekonomi yang tujuannya bukan hanya "tidak merusak", melainkan secara aktif memperbaiki, memulihkan, dan meningkatkan kembali kualitas alam serta kehidupan sosial.
​Jika diibaratkan, Ekonomi Hijau bagaikan minum obat supaya sakitnya tidak parah, sedangkan Ekonomi Regeneratif adalah rajin olahraga, makan makanan sehat, dan minum vitamin sehingga tubuh kita jauh lebih bugar dan kuat daripada sebelum sakit.
 
​Dalam ekonomi regeneratif, bisnis atau aktivitas manusia harus meninggalkan dampak positif bersih, di mana alam menjadi lebih kaya, tanah lebih subur, air lebih bersih, dan masyarakat lebih sejahtera setelah aktivitas itu berlangsung. Contoh ekonomi regeneratif adalah pertanian regeneratif, hutan tani multiguna dan pariwisata regeneratif.
 
Tak pelak lagi, ekonomi sirkuler dan ekonomi regeneratif merupakan strategi bertahan hidup bagi umat manusia, terutama dalam konteks energi dan pangan. Ketergantungan berlebih pada bahan bakar fosil telah melahirkan krisis energi dunia, bahkan limbah dari industri hijau sekalipun tetap menyumbang letupan krisis energi. Oleh karena itu berdasarkan formula ekonomi sirkuler, bioenergy dan daur ulang teknologi hijau dikedepankan. Sedangkan berdasarkan formula ekonomi regeneratif, digalakkan desentralisasi energi komunitas. Intinya ekonomi sirkuler memastikan efisiensi energi secara fisik dan memastikan pemulihan ekologis terhadap semua kerusakan.
 
Sedangkan krisis pangan yang dipicu oleh rantai pasok yang rapuh, limbah makanan yang masif dan kerusakan lahan pertanian akibat limbah kimia, juga menemukan solusi terbaiknya melalui ekonomi sirkuler berupa pengurangan limbah dan efisiensi sumber daya, dan melalui ekonomi regeneratif berupa restorasi ekosistem pertanian. ​Integrasi kedua model tersebut mengubah fokus ketahanan pangan dari sekadar kuantitas produksi menjadi ketahanan sistemik yang sustainable. Pemerintah dan pembuat kebijakan perlu mendorong transisi ini melalui insentif fiskal bagi praktik pertanian regeneratif, investasi infrastruktur pengolahan limbah organik, serta standardisasi rantai pasok pangan yang transparan.
 
Terkait dengan signifikansi ekonomi sirkuler dan ekonomi regeneratif dalam memecahkan permasalahan energi dan pangan,  maka di arena Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang, pada hari Sabtu, tanggal 29 Agustus 2026, Pengurus Besar Ikatan Alumni PMII (PB IKA PMII) akan menggelar seri diskusi khusus dengan tema "Tantangan Energi dan Pangan Global : Apa Peran NU?". 
 
Akan tampil sebagai Nara Sumber dalam kegiatan tersebut M Kholid Zyeirozi (Dewan Ekonomi Nasional), Addin Jauharuddin (Ketum PP GP Ansor), Arif Rahman (DPR RI) dan Winardi Legowo (Dirut Bank Jatim).
 
Diskusi strategis tersebut akan dipandu oleh saya sendiri (penulis). Silahkan hadiri dan ramaikan, kontribusikan pemikiran terbaik untuk bangsa, sampai jumpa di arena Muktamar.
 
*) Penulis adalah Wasekjen PB IKA PMII