"Kepiawaian generasi saat ini di dunia digital jika tidak terkendali, maka justru sebagai pemantik dan bumerang bagi bangsa. Kerusakan bangsa ada di depan mata dari semua aspek (lini). Sehingga cara mensikapi dengan kemampuan insting filterisasi olah pikir dan rasa akan dampak tindakan dengan hanya menggerakkan jari jemari. Artinya cara penggunaan digitallah yang tidak benar dapat mempengaruhi perangkat membawa sebuah kerusakan atau kemaslahatan bagi bangsa ini," tuturnya.
Dengan kondisi ini, kata Fajar, pendidikan formal sudah bukan menjadi modal utama dalam menghadapi era globalisasi digital.
Untuk itu, wajib generasi penerus bangsa dibentengi dengan suri teladan (budi pekerti) dari para sesepuh (tokoh), dan pemegang tampuk kebijakan negara ini.
"Makanya, diwajibkan pendidikan karakter luhur dalam menangkal pengaruh pengaruh negatif dalam revolusi digital," jelasnya.









