Sofyan (30), salah satu warga sekitar mengatakan bahwa warga sangat prihatin melihat kondisi kelima anak tersebut. Mereka sudah menjual perabotan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
"Anak-anak ini makan dengan cara menjual perabotan rumah seperti galon hingga AC. Warga sekitar juga sudah kerap membantu karena merasa iba," ungkap Sofyan, Rabu (13/8/2025).
Menurut Sofyan, rumah kontrakan yang ditinggali 5 bersaudara ini masih memiliki tunggakan uang kontrakan sebesar Rp 10 juta sehingga terancam diusir.
"Pemilik rumah kontrakan kemarin Jumat kesini menanyakan kekurangan pembayaran kontrakan tetapi ibu SA tidak ada di tempat dan tidak bisa dihubungi," tuturnya.
Kondisi ini kata Sofyan, sudah terjadi hampir dua bulan. Pada awalnya ibu kelima anak masih sering pulang. Tapi akhir-akhir ini justru tak ada kabar sama sekali.
"Kurang lebih sudah 10 hari ibunya tidak pulang dan tanpa alasan yang jelas tidak memberi kabar lagi posisinya dimana sedangkan anak-anaknya hidup dengan seadanya," ungkapnya.
Merasa prihatin, Sofyan bersama warga kemudian menghubungi anggota DPRD Gresik asal Gerindra Ricke Mayumi dari Dapil Gresik 1 (Kebomas dan Gresik) untuk meminta solusi terkait lima anak tersebut.
Permintaan Sofyan langsung direspon. Ricke langsung berkoordinasi dengan Ketua Komisi IV DPRD Gresik Muchamad Zaifudin dan Dinas Sosial (Dinsos) Pemkab Gresik. Dengan didampingi Ketua RT dan Kepala Desa Kembangan Ngadimin.mendatangi rumah kontrakan korban.
"Saya dan Mas Udin serta Dinsos Gresik langsung mendatangi rumah kontrakan 5 anak bersaudara tersebut. Memang kondisi mereka memprihatinkan,” ungkap Ricke.
Menurut Ricke, langkah cepat diperlukan khususnya dalam hal kemanusiaan. Apalagi sang ibu tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya.
“Saya salut warga disini peduli dengan tetangganya. Kami juga tadi memberikan sedikit bantuan,” ucapnya.
Sementara, Ketua Komisi IV DPRD Gresik Muchamad Zaifudin mengatakan bahwa berdasarkan hasil asesmen tim Dinsos Gresik tiga dari lima anak yang masih dibawah umur yakni DE, KI dan CE akan direhabilitasi dan ditempatkan di rumah aman milik Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Pemkab Gresik.
“Anak pertama ES sudah setuju dan membuat surat penyataan yang diketahui Ketua RT, Pak Kades dan tetangga,” bebernya.
Adapun ES dan AN rencananya akan diberi pekerjaan oleh Kepala Desa Yosowilangun, Kecamatan Manyar, Abdur Rosyid di SPPG Dapur Umum Pemerintah Desa (Makan Bergizi Gratis).
"Kami mengapresiasi semua pihak yang mau berkolaborasi untuk membangun menyelesaikan warga di Gresik,," pungkasnya.
Sementara itu, Kades Kembangan Ngadimin menyampaikan, dirinya baru tahu ada lima anak terlantar setelah mendapatkan laporan warga Selasa (12/8/2025) malam.
"Sejauh ini saya tidak mendapatkan laporan dari RT kalau ada lima anak terlantar," kata Ngadimin kepada BANGSAONLINE.com, Kamis (14/8/2025).
Setelah dapat laporan, lanjut Ngadimin, Rabu (13/8/2025) pagi bersama Ketua RT RW dan perangkat menggelar rapat untuk carikan solusi.
"Kami juga koordinasi dengan Pak Camat Kebomas untuk langkah selanjutnya agar tidak salah, khwatir kalau ekskusi lima anak tetus dibawa ke tempat penitipan disalahkan ibunya dan keluarganya," ungkapnya.
"Kami bersama petugas Dinsos disaksikan 2 anggota DPRD lalu datangi rumah korban. Kami minta 2 saudara tertua menyetujui tiga adiknya dititipkan. Saudara yang tua lalu buat surat pernyataan bersedia tiga adiknya dibawa dan tanda tangan surat pernyataan. Kalau nanti ibunya tanya dia yang bertanggung jawab," imbuhnya.
Ngadimin menambahkan, dari cerita RT dan warga sekitar sebetulnya sudah lama mau eksekusi kelima anak tersebut dan dititipkan ke tempat penitipan.
"Ya itu tadi, takut nanti disalahkan dan menjadi persoalan. Makanya tidak berani," pungkasnya. (hud/van)









