Wali Kota juga menekankan bahwa sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Kota Batu dan harus didukung dengan pendekatan yang modern dan terintegrasi.
“Petani kita harus adaptif terhadap teknologi. Tantangan utama bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada desain rantai pasok yang efisien. Program ini sejalan dengan visi kami dalam menerapkan Smart Integrated Farming di Kota Batu,” tandasnya.
Terakhir, Wali Kota berharap program ini dapat menjadi model yang dapat direplikasi di gapoktan-gapoktan lainnya di Kota Batu, mengingat potensi komoditas unggulan seperti jeruk, kentang, wortel, dan alpukat yang sangat besar.
“Ke depan, kami ingin mendesain pola tanam dan rantai pasok yang tidak hanya memenuhi standar kualitas perusahaan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani,” tutup Wali Kota Nurochman.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT PELNI, Anik Hidayati, menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menghubungkan dan memberdayakan masyarakat.
Terutama petani di seluruh Nusantara melalui kerja sama antara PELNI Services dan Pemerintah Daerah.
Wali Kota, Wawali, bersama Pimpinan PT PELNI berkesempatan untuk melihat langsung Tani Fresh milik Gapoktan Mitra Sejati yang dapat menjaga kualitas sayuran tetap segar.
Wali Kota bersama seluruh rombongan juga berkesempatan untuk melakukan penanaman bibit komoditas pertanian untuk memastikan keberlanjutan dari program tersebut.
Program tersebut akan berlangsung selama 12 bulan dan mencakup pelatihan budidaya sayuran, penerapan teknologi modern seperti irigasi tetes dan Internet of Things (IoT) dalam greenhouse, penguatan pascapanen, serta diversifikasi produk. (asa/van)










