MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com-Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim mengaku heran terhadap negara Indonesia karena hingga sekarang tidak bisa mandiri, sebaliknya justru terus bergantung kepada negara lain. Termasuk soal teknologi otomotif.
“Kita punya ITS dan ITB tapi kita sampai sekarang belum bisa memproduksi mobil sendiri. Bahkan untuk memproduksi sepeda motor saja belum bisa, apalagi rudal,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim saat memberikan pengarahan kepada para wali santri Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) di Masjid Al Qonaah Madrasah MBI Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026) pagi.
“Karena itu UAC akan mendirikan fakultas teknologi dan kedokteran,” ujarnya.
Padahal, tegas Kiai Asep, ITS selama ini telah menjadi pelopor dan perancang mobil listrik, sedangkan ITB selama ini telah menghasilkan berbagai inovasi otomotif. Mulai dari riset komponen lokal, mobil formula, hingga kendaraan otonom dan listrik. Tapi pemerintah tetap tak memberi peluang untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuannya.
“Karena negara kita sekarang juga sedang dijajah. Dijajah oleh Jepang, dijajah Amerika, dan dijajah China,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 lalu mendapat penghargaan bergengsi sebagai Tokoh Penggerak Ekonomi Pesantren 2025 dari Bank Indonesia (BI).
Akibatnya, mobil dan bahkan sepeda motor pun bangsa Indonesia harus impor dari Jepang, Amerika dan China.
Menurut Kiai Asep, Indonesia juga dijajah bangsa sendiri. “Sebanyak 70 persen perekonomian Indonesia dikuasai oleh 50 keluarga. Siapa mereka? Oligarki,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Para oligarki inilah yang mengatur pasar otomotif Indonesia bekerjasama dengan perusahaan otomotif Jepang, Amerika dan China. Sehingga perguruan tinggi Indonesia – seperti ITB dan ITS – tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan hasil riset dan karya-karya canggihnya.
Kiai Asep mengungkap dominasi ekonomi oligarki yang telah menimbulkan ketimpangan sosial tersebut terkait sejah berdirinya NU. Menurut Kiai Asep, NU didirikan pada 1926 dengan dua tujuan. Yaitu untuk mengembangkan paham Aswaja dan kemerdekaan bangsa dari penjajah.
Menurut Kiai Asep, NU berasal dari ulama pesantren. Dalam sejarah Indonesia, tegas Kiai Asep, pesantren adalah pusat perjuangan melawan penjajah.
“Tapi saat itu mudah dilumpuhkan karena berjuang sendiri-sendiri,” ujar Kiai Asep.
Perlawanan ulama pesantren baru efektif setelah mendirikan NU.
“Ketika NU berdiri penjajah Belanda cemas karena mereka yakin bangsa ini pasti merdeka,” ujar Kiai Asep.
Dan benar. Pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia secara resmi memproklamirkan kemerdekaan.
Meski demikian, Inggris dan Belanda tak terima begitu saja. Mereka terus merongrong untuk menguasai Indonesia kembali.
“Kemerdekaan Indonesia hampir lepas,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 menerima penghargaan bintang maha putra nararya dari Presiden Prabowo Subianto.
Saat itulah ulama pesantren kembali menunjukkan sikap patriotisme dan nasionalismenya. Saat itu, tutur Kiai Asep, Inggris dan Belanda menerjunkan tentaranya untuk menguasai Surabaya. Sikap tokoh dan pejuang Indonesia terbelah.
“Bung Karno dan Bung Hatta memilih diplomasi dan perundingan. Alasannya agar tidak banyak korban. Sedangkan Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari memilih clash fisik. Sikap tegas Kiai Hasyim Asy’ari ini didukung Panglima Soedirman dan Bung Tomo. Panglima Soedirman dan Bung Tomo sering berkonsultasi dengan Kiai Hasyim Asy’ari,” ujar Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, Kiai Hasyim Asy’ari memilih clahs fisik karena kalau diplomasi bangsa Indonesia pasti kalah.
“Karena para penjajah tak mau kalah dan pegang senjata,” ujarnya.
Akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta merestui pilihan Hadratussyaikh.
“Bung Tomo bertanya kepada Kiai Hasyim Asy’ari, kapan kita menyerang. Kiai Hasyim Asy’ari menjawab, tunggu kedatangan Kiai Abbas Abdul Jamil dari Cirebon,” ujar Kiai Asep.
Pada tanggal 9 November 1945, tutur Kiai Asep, Kiai Abbas tiba di Pesantren Tebuireng Jombang.
“Habis Subuh, tanggal 10 November, Kiai Abbas dan santri Tebuireng berangkat ke Surabaya naik kereta Eskpres lalu melakukan serangan,” ujar Kiai Asep.
Pertempuran itu berlangsung dahsyat. Jenderal Mallaby, panglima kebanggaan Inggris tewas, setelah diculik santri Tebuireng.
“Saat itu korban meninggal mencapai 30 ribu lebih, terutama para santri,” ujar Kiai Asep.
“Dari mana kita tahu data itu. Dari The New York Time, surat kabar Amerika Serikat, yang terbit setelah peristiwa 10 November,” ujar Kiai Asep.
Jadi, tegas Kiai Asep, ulama pesantren memiliki saham besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tapi yang menikmati kekayaan Indonesia sekarang justeru orang-orang yang tidak berkeringat.
Karena itu, tegas Kiai Asep, sekarang kita perlu merevitalisasi perjuangan NU untuk kembali seperti saat awal berdiri.
“Yaitu untuk merealisasikan cita-cita luhur kemerdekaan bangsa, yakni Indonesia maju, adil dan makmur,” ujarnya.
Karena itu Kiai Asep minta para wali santri Amanatul Ummah ikut mendoakan semoga pada Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada wal Agustus 2026 terpilih pemimpin yang punya integritas, kapasitas dan moralitas yang baik.
Kiai Asep yakin, jika NU atau PBNU dipimpin kiai atau ulama yang punya integritas, kapasitas dan moralitas yang baik akan sangat besar perannya terhadap kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
Keyakinan ini didasarkan pada pengalamannya memproduksi santri berprestasi bukan hanya tingkat nasional tapi juga internasional. Pada tahun 2026 ini saja santri Amanatul Ummah yang diterima di perguruan tinggi negeri lewat SNBP dan SNBT jauh melampai sekolah-sekolah negeri. Seperti di ITB, ITS, Unair, UB, UI, UIN, IPB dan sebagainya.
Banyak juga santri Amanatul Ummah yang diterima di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Mesir, Maroko, Tunisia, Rusia, Tiongkok, Inggris, Malaysia, Australia, Jordania, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman dan negara-negara lainnya.
Bahkan pada tahun 2026 ini ada santri Amanatul Ummah yang diterima di 17 perguruan tinggi luar negeri atau internasional sekaligus.
"Kita punya teori. — قوام الدنيا بأربعة أشياء. أولها بعلم العلماء والثانى بعدل الأمراء والثالث بسخاوةالأغنياء والرابع بدعوة الفقراء.
Artinya, Kehidupan kita kita akan kokoh jika ditopang empat pilar. Yaitu ilmu ulama, kedilan pemimpin, kedermawnan konglomerat dan doa orang miskin. Tapi yang nomor empat ini di pesantren jangan diproduksi. Karena itu di Amanatul Ummah kita ganti para profesional yang berkualitas dan bertanggungjawab," ujar Kiai Asep.
Menurut dia, empat pilah ini harus bisa diproduksi oleh NU atau PBNU ke depan. "Alhamdulillah, Amanatul Ummah telah mengalami transfromasi. Karena itu keberhasilan Amanatul Ummah harus kita transfer ke semua pondok pesantren NU di seluruh Indonesia," ujarnya.
Usai Kiai Asep menyampaikan pengarahan para wali santri secara teratur mengambil posisi sesuai arahan Gus Ilyas dan para ustadz dan ustadzah. Untuk wali santri putri naik ke lantas dua dan tiga Masjid Al Qonaah.
Sedangkan wali santri putra tetap berada di lantai satu Masjid Al Qonaah. Para wali kelas pun secara cepat membagikan rapor para santri.
DATANG SUBUH ATAU MENGINAP
Tampaknya ribuan para wali santri sudah mengantisipasi untuk menghindari kemacetan. Selain itu mereka juga khawatir tidak mendapat tempat parkir. Maklum, setiap pembagian rapor selalu diwarnai kemacetan dan kesulitan parkir.
Maka khusus wali santri yang tinggal di luar Jawa Timur pilihannya hanya satu: datang sehari sebelumnya dan menginap di tempat-tempat penginapan di sekitar Pesantren Amanatul Ummah. Atau datang pada tengah malam kemudian menunggu di lapangan parkir.
Memang sejak pagi sekali ribuan wali santri telah berduyun-duyun datang ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Sabtu (27/6/2026). Para wali santri dari berbagai penjuru Indonesia itu datang untuk mengambil rapor sekaligus menjemput putra-putrinya menjelang liburan panjang.
Pantauan BANGSAONLINE, pukul 6 pagi lapangan parkir mobil yang terletak di seberang Pesantren Amanatul Ummah itu sudah penuh. Bahkan deretan mobil meluber ke jalan raya. Untung jalan menuju Pondok Pesantren Amanatul Ummah diperlebar. Maka sepanjang jalan raya menuju pesantren tersebut penuh dengan mobil yang diparkir di tepi jalan.
Meski demikian rapotan kali ini lebih tertib dan lancar. Para wali santri tak terjebak macet berjam-jam seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, tahun ini pengambilan rapor lancar dan cepat,” ujar seorang wali santri Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah sumringah seusai mengambil rapor di Masjid Al-Qonaah MBI.
“Kalau tahun lalu, belum sampai ke lokasi sudah terjebak macet berjam-jam,” tambahnya.
Lancarnya rapotan kali ini tak lepas dari jadwal waktu yang disusun Amanatul Ummah. Pembagian rapor dibagi tiga gelombang.
“Pagi MBI, siang SMA dan pagi MAI,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto saat memberikan pengarahan kepada para wali santri MBI di Masjid Al Qonaah MBI Pacet Mojokerto, Sabtu (27/6/2026).
Dengan waktu yang berbeda itu otomatis tidak terjadi kedatangan mobil dalam satu waktu. Sehingga tidak terjadi kemacetan parah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Acara pengambilan rapor itu dimulai dari Madrasah Bertaraf Internasional (MBI). Sekitar pukul 7 pagi.
Acara itu dimulai dengan istighatsah. Dipimpin langsung oleh Kiai Asep Saifuddin Chalim. Di sebelahnya tampak Dr H. Muhammad Ilyas (Gus Ilyas) dan para ustadz MBI. Gus Ilyas adalah koordinator MBI yang juga putra Kiai Asep.
Usai mimpin istighatsah Kiai Asep memberikan pengarahan. Putra pendiri NU dan pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu minta agar para santri Amanatul Ummah lebih banyak berkumpul dengan keluarga ketika di rumah. Tak perlu membuat perkumpulan yang berpotensi berpengaruh terhadap semangat belajar dan pergaulan negatif.










